BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan praktikum alkalinity adalah:
1. Menentukan
sifat keasaman dan kebasaan senyawa-senyawa karbonat, bikarbonat dan hidroksida.
2. Mengetahui
jenis-jenis indikator dan penggunaan indikator.
3. Mempelajari
faktor-faktor yang mempengaruhi alkalinity.
4. Mampu
menganalisa alkalinity dengan metode asidimetri.
1.2.
Landasan Teori
1.2.1. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap pH, Alkalinitas
dan Asam Volatil Dalam
Bioreaktor Hibrid Anaerob Dua Tahap Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Sagu
Pendahuluan
Tanaman
sagu (Metroxylon Osp. ) merupakan
tanaman pangan lokal Indonesia yang
memiliki potensi cukup besar.
Hal ini dikarenakan
sagu merupakan sumber
karbohidrat yang penting
bagi kehidupan yang
dapat menggantikan beras.
Daerah potensial penghasil
sagu di Indonesia
kebanyakan terdapat di daerah timur seperti Sulawesi, Maluku dan
Papua. Sedangkan untuk
di daerah Sumatra, Riau
tepatnya di Kepulauan Meranti
juga menjadi daerah
penghasil sagu. Menurut
Ramadhan (2009) sebanyak
51,3% dari 2,2
juta Ha areal lahan
sagu di dunia,
terdapat di Indonesia. Daerah
potensial penghasil sagu di
Indonesia meliputi Riau, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Untuk
mengolah tanaman sagu
menghasilkan pati sagu dilakukan proses ekstraksi dengan
air. Dengan media
air ini pati sagu
dapat dipisahkan dengan seratnya. Akibatnya air mengandung
pati setelah proses ekstraksi
[Amos, 2010]. Dalam memproduksi
tepung sagu dibutuhkan
20.000 liter air per ton sagu, yang mana 94% air tersebut akan
menjadi limbah cair, sehingga
sekitar 19.000 kL limbah
cair sagu yang
dihasilkan per 1 ton sagu
[Banu dkk, 2006].
Bila
limbah cair yang
memiliki kandungan bahan organik
tinggi langsung dibuang ke perairan
sangat berpotensi mencemari lingkungan.
Untuk itu dilakukan pengolahan
limbah cair sebelum limbah cair
tersebut dibuang ke
perairan [Ahmad, 1992].
Limbah cair yang
dibuang ke perairan
harus sesuai dengan baku
mutu lingkungan. Hal
ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya pencemaran agar
aktivitas biota perairan
tidak terganggu dan
kualitas air tidak menurun.
Pengolahan
limbah cair dapat
dilakukan secara aerob
dan anaerob. Proses anaerob
merupakan proses biodegradasi
senyawa organik secara biologis dalam
kondisi tanpa kehadiran
oksigen. Salah satu
contoh pengolahan limbah cair
secara anaerob yang
dapat dilakukan adalah dengan
bioreaktor hibrid anaerob yang
merupakan penggabungan antara
sistem pertumbuhan
tersuspensi, dan sistem pertumbuhan melekat,
anaerobik filter [Ahmad, 2004].
Pada
dekomposisi anaerob faktor
pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak sesuai mikroba
tidak dapat tumbuh dengan
maksimum dan bahkan menyebabkan kematian
yang pada akhirnya dapat
menghambat perolehan gas metana.
Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan mikroorganisme
adalah 6,8 hingga
7,8 [Simamora dkk, 2006]. Sedangkan alkalinitas limbah cair
membantu mempertahankan pH
agar tidak mudah berubah
yang disebabkan oleh penambahan
asam. Selain itu, alkalinitas juga
mempengaruhi pengolahan zat-zat
kimia dan biologi
serta dibutuhkan sebagai
nutrisi bagi mikroba [Putra,
2010].
Dalam pengolahan limbah cair sagu dengan
menggunakan bioreaktor hibrid anaerob dua
tahap perlu tidak
hanya memperhatikan
parameter1parameter seperti
pH dan alkalinitas,
tetapi juga memperhatikan asam
asetat. Menurut Smit (2011)
asam asetat yang
bersifat volatil ini bisa
berdampak sebagai pencemaran
udara yang menyebabkan
bau asam terhadap lingkungan sekitarnya.
Kandungan asam asetat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
terhadap kinerja bioreaktor.
Penelitian ini bertujuan
untuk menentukan pengaruh
laju alir umpan terhadap pH, alkalinitas dan asam
volatil dalam bioreaktor hibrid
anaerob dua tahap bermedia
batu yang terdapat
di dalam pengolahan limbah cair sagu serta menentukan kestabilan
bioreaktor hibrid anaerob dua
tahap.
Metode
Penelitian
Limbah cair yang digunakan adalah limbah
cair pabrik pengolahan
pati sagu Desa Belitung,
Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan
Meranti dengan karakteristik
ditampilkan dalam Tabel 1.

Variabel
proses yang digunakan
adalah variasi laju alir umpan yaitu 2,86 liter/hari, 4
liter/hari dan 6,67
liter/hari. Parameter yang diamati
adalah pH, alkalinitas dan
asam volatil. Metode
pengukuran pH menggunakan
pH meter dan metode
pengukuran alkalinitas
menggunakan metode titrasi
volumetri (indikator warna) sedangkan asam volatil dengan metode
destilasi uap sesuai dengan
standard methods [APHA, AWWA
dan WPCF,1992]. Peralatan utama yang digunakan pada
penelitian ini adalah bioreaktor hibrid
anaerob dan peralatan pendukung
sistem secara keseluruhan terdiri
dari tangki umpan, selang, pompa
sirkulasi, tangki dan pemasok gas nitrogen. Gambar
rangkaian alat bioreaktor
hibrid anaerob dapat dilihat pada Gambar
1.

Dari
Gambar 1. Dapat
dilihat bahwa batu dimasukkan ke
dalam bagian yang tidak bersekat dengan
ketinggian ¾ dari tinggi cairan.
Kemudian pada bagian yang tersuspensi
dan melekat dimasukkan kultur campuran
yang terdiri dari kotoran sapi dan
substrat berupa limbah cair sagu yang
telah diaklimatisasi, sehingga
volume reaktor efektif
cairan 10 liter
pada bioreaktor tahap
satu dan 20
liter pada bioreaktor
tahap dua diinjeksikan gas
nitrogen ke dalam sistem melalui lubang
yang telah tersedia
pada bioreaktor selama
5 menit pada
masing masing fase pertumbuhan
tersuspensi dan melekat yang
bertujuan untuk mengusir
oksigen terlarut dalam cairan. Pola aliran mengikuti
rezim di dalam
sistem bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap.
Limbah cair sagu yang akan diolah, dimasukkan ke
dalam tangki umpan Kemudian, dengan menggunakan pompa, limbah
cair tersebut dialirkan
bioreaktor tahap satu
dengan laju alir
umpan 5 liter/hari.
Aliran limbah cair
sagu yang ada di dalam bioreaktor
turun dan naik
mengikuti sekat yang
ada di dalam
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap dan
aliran tersebut akan
keluar menuju tangki
effluent . Dari tangki
effluent limbah cair
sagu akan dipompakan kembali
menuju bioreaktor tahap
dua dengan laju
alir umpan yang
telah divariasikan. Pada
bagian atas bioreaktor
hibrid anaerob dua
dilengkapi dengan leher
angsa dan selang.
Larutan garam diisi
pada leher angsa
agar dapat mencegah
masuknya mikroorganisme pengganggu
dari luar bioreaktor.
Setelah
keadaan tunak (steandy
state) pada proses
start- up bioreaktor diberikan
laju pembebanan organik
yang berbeda-beda dengan
mengatur laju alir
umpan yang berbeda beda
pula. Laj u alir
yang diberikan adalah
2,86 liter/hari ;
4 liter/hari dan
6,67 liter/hari. Bioreaktor
dioperasikan pada suhu
ruang.
Proses
operasional ini bertujuan
untuk melihat pengaruh
laju terhadap pH, alkalinitas
dan Yang
diperhatikan adalah dengan
nilai laju alir
umpan tertentu didapat
perubahan nilai pH, alkalinitas volatil. Selain itu, laju ali r
umpan bertujuan untuk
memberikan pasokan makanan
bagi bakteri anaerob
sebagai nutrisi untuk pertumbuhan.
Setiap laju alir
umpan yang diberikan,
dilakukan pengambilan sampel
pada bioreaktor sebanyak
500 ml untuk
dianalisa pH, alkalinitas dan asam
Hasil
dan Pembahasan
Hasil
pengamatan melihat perubahan
pH , alkalinitas volatil pada
saat start-up dan kontinu.
a. Perubahan pH
Selama Transien Pada Start-up
Dilakukan
pengukuran pH selama kondisi
transien dengan laju
alir umpan3,33 liter/hari.
Hasil pengukuran pH
tersebut dapat dilihat pada Gambar 2
Pada Gambar 2.
Ditunjukkan bahwa nilai
pH meningkat seiring
meningkatnya waktu. Kondisi
pH paling tinggi terjadi pada hari ke124 dengan
nilai pH
7 dan kondisi
pH paling rendah
terjadi pada hari ke17 dan 9 dengan nilai pH
6,4 untuk bioreaktor
sedangkan pada bioreaktor
kondisi pH paling tinggi terjadi pada hari Ke-31 dengan nilai pH 7,4 dan kondisi pH paling
rendah terjadi pada
hari ke dan 9
dengan nilai 6,6.
Fluktuasi pH terjadi
akibat asam1asam volatil
yang terbentuk mampu
disangga oleh unsur
alkali yang terdapat dalam air
buangan. Alkalinitas yang
terbentuk pada air
buangan berasal dari
CO bersenyawa dengan air
membentuk membentuk asam karbonat
dan berdissosiasi membentuk
ion hidrogen dan ion1ion bikarbonat. Ion ini yang
berfungsi sebagai Kondisi
optimum untuk perkembangan
mikroorganisme anaerobik berkisar
pada pH 6,817,4 [Ahmad,
1992].
b. Perubahan Konsentrasi
Alkalinitas Selama Transien Pada Start
Dilakukan
pengukuran alkalinitas selama
kondisi transien dengan
laju alir umpan
3,33 liter/hari. Hasil
pengukuran alkalinitas tersebut
dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar
3. menunjukkan konsentrasi
alkalinitas tertinggi pada
proses start-up bioreaktor
terjadi pada hari
ke131 dengan nilai
sekitar 2160 mg/L
dan konsentrasi alkalinitas
yang paling rendah
terjadi pada hari
ke11 dengan nilai
sekitar 900 mg/L,
sedangkan pada proses
bioreaktor tahap dua ,
konsentrasi alkalinitas tertinggi
terjadi pada hari
ke 31 dengan nilai
sekitar 2380 mg/L
dan konsentrasi alkalinitas
terendah terjadi pada
hari ke13 dengan nilai sekitar
1160 mg/L. Konsentrasi alkalinitas
mengalami peningkatan dari bioreakt or tahap satu bioreaktor tahap
dua meningkatnya asam1asam volatil
yang tidak terpakai
dan terbawa oleh
aliran menjadi efluen
akan mengganggu kesetimbangan
antara CO2 akibatnya
dissosiasi ion hidrogen dan ion
bikarbonat y ang berfungsi sebagai
ikut terganggu. Hal
ini berpengaruh terhadap
nilai konsentrasi alkalinitas.
Kondisi optimum alkalinitas
untuk fermentasi metan
berkisar antara 2000 - 3000 mg/L [Ahmad, 1992].
c. Perubahan Konsentrasi
Asam Volatil Selama Transien pada
start-up
Dilakukan pengukuran asam volatil selama
kondisi transien dengan
laju alir umpan
3,33 liter/hari. Hasil
pengukuran asam volatil
tersebut dapat dilihat
pada Gambar 5.

Gambar
5. Perubahan Asam Volatil Selama Transien
Gambar 5.
menunjukkan bahwa kenaikan asam volatil paling
tinggi pada bioreaktor tahap satu dan dua terjadi pada
hari ke110 dengan
nilai konsentrasi 86,4
mg/L dan 57,6
mg/L, sedangkan konsentrasi
asam volatil paling rendah pada
bioreaktor dan dua dengan nilai
konsentrasi 34,56 mg/L
dan 23,04 mg/L.
Kapasitas penyangga dari
alkalinitas mampu menyangga
asam-asam volatil yang
terbentuk sehingga konsentrasi
asam volatil tidak meningkat.
Turunnya konsentrasi asam
lemak volatil didalam
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap dengan
media batu tidak
mengakibatkan aktivitas mikroorganisme terganggu,
hal ini dapat dilihat dari pH
yang dihasilkan pada sistem.
Menurut Ahmad (1992),
kondisi optimum fermentasi
metan berlangsung pada
rentang asam lemak
volatil 501500 mg/L
dan ekstrim pada
konsentrasi 2000 mg/L.
d. Kestabilan Bioreaktor
Hibrid Anaerob Dua Tahap
Pada
Kestabilan
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap dengan
media batu ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar
6. Kestabilan Bioreaktor pada Kondisi
Start-Up
Kestabilan bioreaktor ditunjukkan dari nilai
rasio konsentrasi asam volatil dengan konsentrasi
alkalinitas
(TAV/Alkalinitas). Menurut Ahmad
(2004), sistem yang
mempunyai kestabilan tinggi
mempunyai nisbah TAV/Alkalinitas lebih
kecil dari 0,1.
Kestabilan proses yang
cukup tinggi disebabkan
karena adanya pemisahan
tahap yaitu tahap
asidogenesis dan metanogenesis. Dengan
adanya pemisahan tahap
maka senyawa yang
bersifat racun terhadap kelompok bakteri
metanogen dapat dicegah
daan dikendalikan pada
tahap pertam (asidogenesis). Pada penelitian ini,
tingkat kestabilan bioreaktor
hibrid anaerob dua
tahap dengan media
batu yang paling
tinggi pada bioreaktor satu
dan dua terjadi
pada hari ke dengan
nilai 0 ,016 dan
0,0096, sedangkan nilai
kestabilan bioreakt tahap satu
dan dua yang
paling rendah terjadi
pada hari ke110
dengan nilai 0,0685 dan 0,0389.
e. Perubahan Konsentrasi
pH Selama Transien Pada
Proses Kontinu
Kondisi
transien merupakan kondisi awal sebelum tercapainya kondisi steady state
di dalam sistem
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap. Perubahan
pH selama proses
kontinu bioreaktor hibrid
anaerob dua tahap
bermedia ditunjukkan pada Gambar
7 .

Gambar
7. Hubungan antara Laju Alir terhadap pH pada Proses Kontinu
Gambar 7. menunjukkan bahwa pH meningkat
berbanding terbalik dengan
laju alir umpan.
Dari gambar tersebut
dapat dilihat pada
bioreaktor bahwa semakin
besar laju alir
maka pH effluent
yang terukur semakin
rendah. Kondisi bioreaktor
hibrib anaerob tahap
ini yaitu menvariasikan
laju alir pada
bioreaktor tahap dua ,
sedangkan pada bioreaktor tahap satu laju alir tetap
sebesar 5 liter/hari
dan tidak divarisikan
seperti bioreaktor tahap dua . Kondisi pH paling
tinggi terjadi pada
laju alir 2,86
liter/ hari yaitu sebesar
7 dengan nilai
Rata-rata 6,76. Kondisi pH
paling rendah terdapat pada
laju alir 6,67
liter/hari dengan nilai
rata1rata pH 6,28.
Sedangkan kondisi rata1rata pH pada laju
alir 4 liter/hari sebesar 6,59. Kondisi pH paling optimum
berada pada laju alir
terkecil yaitu 2,86
l/hari. Kondisi optimum
untuk perkembangan mikroorganisme anaerobik
yang berkisar pada pH 6,817,4 [Ahmad, 2004].
Peneliti
sebelumnya telah melakukan
penelitian dengan menggunakan
yaitu bioreaktor hibrid
anaerob tetapi dengan
menggunakan limbah dan
media yang berbeda.
Banu dkk (2006)
melakukan penelitian menggunakan
limbah cair sagu
sintetik dengan media plastik
ring, diperoleh pH
sebesar 7,4 hingga 8,1.
Putra
(2010) melakukan penelitian
dengan substrat limbah
cair sawit dan
media batu diperoleh
pH sebesar 6,8
hingga 7,4. Lestari
(2012) melakukan penelitian menggunakan limbah cair sagu
dengan media batu, diperoleh pH sebesar
6,2 hingga 7,4.
f. Perubahan Konsentrasi
Alkalinitas Selama Transien
Pada Kontinu
Perubahan
konsentrasi alkalinitas selama
proses kontinu bioreaktor
hibrid anaerob dua
tahap bermedia ditunjukkan pada Gambar 8.

Gambar
8. Hubungan antara Laju alir terhadap Alkalinitas pada Proses Kontinu
Gambar 8. Menunjukkan konsentrasi alkalinitas
tertinggi pada proses
kontinu bioreaktor terjadi
pada laju alir
2,86 liter/hari yaitu
dengan nilai 2440 mg/L dengan nilai rata rata sekitar
2341 mg/L sedangkan
rata rata alkalinitas terendah terjadi pada laju alir
6,67 liter/hari yaitu
sebesar 2153 mg/l.
Pada kondisi laju
alir 4 liter/hari
nilai rata1rata alkalinitas
berkisar 2313 mg/L.
Perairan mengandung alkalinitas
≥20 ppm menunjukkan
bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan
asam/basa sehingga kapasitas buffer atau
basa lebih stabil.
Peneliti
sebelumnya telah melakukan
penelitian dengan menggunakan jenis bioreaktor yang sama yaitu
bioreaktor hibrid anaerob
tetapi dengan menggunakan
limbah dan media
yang berbeda. Banu
dkk (2006) melakukan
penelitian menggunakan limbah
cair sagu sintetik
dengan media plastik
ring, diperoleh konsentrasi
alkalinitas sebesar 1510
hingga 3120 mg/L. Putra (2010) melakukan penelitian dengan
substrat limbah cair
sawit dan media
batu, diperoleh konsentrasi alkalinitas sebesar
25.000 hingga 32.000
mg/L. Lestari (2012)
melakukan penelitian dengan
substrat limbah cair
sagu dan media
batu, diperoleh konsentrasi
alkalinitas sebesar 2160
hingga 2640 mg/L.
g. Perubahan Konsentrasi
Volatil Selama Transien
Pa Proses Kontinu
Perubahan konsentrasi asam volatil selama
proses kontinu bioreaktor
hibrid anaerob dua
tahap bermedia batu
ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar
9. Hubungan antara Laju alir terhadap
Asam Volatil pada Proses Kontinu
Pada Gambar 9.
ditunjukkan bahwa konsentrasi
asam volatil yang
dihasilkan pada proses
kontinu berbanding lurus dengan
laju alir umpan. Penurunan konsentrasi
asam volatil yang paling rendah terjadi
pada laju alir umpan 2,86 liter/hari
dengan nilai konsentra Rata-rata sebesar
38,67 mg/L, sedangkan
konsentrasi asam volatil
yang paling tinggi pada laju alir umpan 6,67
liter/hari dengan nilai konsentrasi
rata-rata sebesar 64,8 mg/L.
Rata-rata konsentrasi asam
volatil pada laju
alir umpan 4
liter/hari adalah se besar
47,52 mg/L. metabolisme
pencernaan anaerobik semua asam volatil diubah menjadi asam asetat.
Konsentrasi
asam asetat dapat
dianggap sebagai indikator
yang baik bagi
kinerja reaktor anaerob,
khususnya pada aktivitas
bakteri m ethanogen dan
acetogenic karena asam
dikonversi ke metana
pada laju yang
sama terbentuk jika keseimbangan terjaga. Konsentrasi
dan proporsi asam
asetat yang diproduksi
dalam tahap acidogenic
dan acetogenic adalah
penting dalam kinerja
keseluruhan sistem pencernaan
anaerobik karena asam asetat adalah
prekursor yang lebih disukai untuk
pembentukan metana. Sebagai aturan umum anaerob
konsentrasi asam kurang
dari 250 mg/L.
Penghambatan terjadi pada
konsentrasi asam asetat dari
2.000 mg/L.
Konsentrasi
asam asetat yang
diperoleh berkisar dari 28,8 mg/L hingga
69,12 mg/L. Rentang
konsentrasi asam asetat
ini relatif rendah
dibandingkan dengan peneliti
lai n [Banu dkk,
2006; Putra, 2010;
Dewi, 2012]. Banu
dkk (2006) memperoleh
konsentrasi asam asetat
sekitar 2.900 mg/L
pada laju pembebanan
organik 24,6 kg
COD/m hari dengan menggunakan
substrat limbah cair sagu
sintetik bermedia plastik ring, sedangkan
Putra memperoleh asam asetat
sebesar 8.700 mg/L pada waktu tinggal hidraulik 4 hari dengan menggunakan limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan media batu. Sementara itu, Dewi (2012) memperoleh asam asetat
sebesar 76,8 mg/L pada laju
pembebanan organ ik 50 kg COD/m dengan
menggunakan substrat limbah
cair sagu dengan media batu.
h. Kestabilan Bioreaktor
Hibrid Anaerob Dua
Tahap Pada Proses
Kontinu
Kestabilan
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap dengan
media batu selama
proses kontinu ditunjukkan
Gambar 10.

Gambar 10. Kestabilan
Bioreaktor Selama Proses Kontinu
Kestabilan
bioreaktor dapat ditunjukkan
dari rasio total
asam lemak volatil
dengan konsentrasi alkalinitas.
Pada proses kontinu
penelitian ini, tingkat
kestabilan bioreaktor hibrid
anaerob bermedia batu
sebesar 0,0118 pada
hari ke111 dengan
laju alir 2,86
liter/hari, sedangkan tingkat
kestabilan bioreaktor pada laju
alir 4 liter/hari yaitu sebesar 0,0183
pada hari ke 1 laju
alir 6,67 liter/hari
tingkat kestabilan bioreaktor
sebsesar 0,0288 pada
hari pertama. Hasil
ini menunjukkan bahwa
tingkat kestabilan bioreaktor
tersebut sangat tinggi,
tetapi bioreaktor yang
mempunyai tingkat kestabilan
paling tinggi adalah
bioreaktor pada laju
alir 2,86 liter/hari
dengan tingkat kestabilan 0,0118.
Menurut Ahmad (2004),
yang mempunyai kestabilan
tinggi harus mempunyai nisbah
TAV/Alkalinitas kecil dari 0,1. Grafik
tingkat kestabilan bioreaktor
hibrid anae rob dapat
dilihat pada Gambar 10 di
atas.
i.
Hubungan Laju
Alir Umpan terhadap Konsentrasi pH
Hubungan
pH pada kondisi
tunak bioreaktor hibrid
anaerob dua tahap
bermedia batu pada laju alir umpan 2,86
liter/hari; 4 liter/ hari dan 6,67 liter/hari dapat dilihat pada Gambar 11 .

Gambar 11. Hubungan Laju Alir Umpan terhadap pH
Gambar 11 menunjukkan antara kondisi
rata-rata pH pada
kondisi tunak masing1masing
variabel laju alir. Pada laju alir
2,86 liter/hari diperoleh Rata-rata
nilai pH 6,76,
pada laju alir 4
liter/hari diperoleh rata1rata nilai pH 6,63 dan pada laju alir 6,67 liter/hari diperoleh
Rata-rata nilai pH 6,27. Pada laju
alir 2,86 l/hari
nilai pH berada
pada rentang optimum
proses anaerob. Pada
laju alir 4,
dan 6,67 liter/hari nilai pH yang terukur
menurun. Dari Gambar
4.8 dapat dilihat
bahwa hubungan laju
alir umpan terhadap
pH yaitu semakin tinggi
pH berbanding terbalik dengan laju alir umpan. 3.10 Hubungan
Laju Alir Umpan
terhadap Konsentrasi Alkalinitas Hubungan alkalinitas
pada kondisi tunak bioreaktor hibrid anaerob dua tahap bermedia batu pada laju alir umpan 2,86 liter/hari ; 4 liter/ hari dan 6,67
liter/hari dapat dilihat pada
Gambar 12.

Gambar 12. Hubungan Laju Alir
Umpan terhadap Alkalinitas
Gambar 12.
menunjukkan hubungan antara
kondisi rata alkalinitas pada
kondisi tunak masing masing
variabel laju alir.
Pada laju alir
2,86 liter/hari diperoleh rata-rata konsentrasi alkalinitas
sebesar 2333 mg/L,
pada laju alir
4 liter/hari diperoleh
rata konsentrasi alkalinitas sebesar
2313 mg/L, dan
pada laju alir
6,67 liter/hari diperoleh rata1rata konsentrasi alkalini
sebesar 2160 mg/L.
Pada
laju alir 2,86
liter/hari konsentrasi alkalinitas
yang cukup tinggi. Pada
laju alir 4
dan 6,67 liter/hari
konsentrasi alkalinitas
menurun dan dapat
dilihat pH yang
terukur pada Gambar
4.9 juga menurun.
Penurunan kapasitas penyangga
dari alkalinitas disebabkan
karena peningkatan laju
alir umpan. Hal
ini sesuai dengan
penelitian Soeprijanto dkk
(2010) yang menyimpulkan
bahwa semakin tinggi
pembebanan organik atau laju alir umpan
berarti semakin banyak
bahan organik yang
didegradasi sehingga sistem
akan lebih banyak
menghasilkan asam asetat.
Apabila asam asetat yang dihasilkan pada
proses asidogenesis lebih
banyak dibanding karbondioksida maka
asam karbonat yang
dihasilkan dari reaksi
karbondioksida dan air juga akan menjadi sedikit dan
konsentrasi alkalinitas yang
terukur akan bernilai kecil.
Alkalinitas
juga berpengaruh terhadap pH dalam suatu perairan. Dalam kondisi
basa ion bikarbonat
akan membentuk ion karbonat dan
melepaskan ion hidrogen yang bersifat
asam sehingga ke adaan pH
menjadi netral, sebaliknya
bila keadaan terlalu
asam, ion karbonat
akan mengalami hidrolis
menjadi ion bikarbonat
dan melepaskan hidrogen
oksida yang bersifat
basa, sehingga keadaan kembali netral. Dari Gambar
12. dapat dilihat
bahwa hubungan laju alir umpan terhadap
konsentrasi alkalinitas sama
seperti hubungan laju
alir umpan terhadap
pH yaitu semakin
tinggi pH maka
konsentrasi alkalinitas yang
terhitung juga semakin
meningkat hal ini
berbanding terbalik dengan
laju alir umpan.
Kondisi pH dipengaruhi
oleh alkalinitas karena
alkalinitas merupakan penunjuk kapasitas penyangga pH dalam fermentasi
anaerobik. Semakin tinggi
konsentrasi alkalinitas menyebabkan
kondisi pH cairan
tidak turun, sehingga
bakteri anaerobik dapat
berkembang optimum pada
proses fermentasi anaerobik
untuk menghasilkan biogas.
j.
Hubungan Laju
Alir Umpan terhadap Konsentrasi Asam Volatil
Hubungan
asam volatil pada
kondisi tunak bioreaktor
hibrid anaerob dua
tahap bermedia batu
pada laju alir
umpan 2,86 liter/hari
; 4 liter/
hari dan 6,67 liter/hari dapat dilihat pada
Gambar 13.

Gambar
13. Hubungan Laju Alir Umpan terhadap
Asam Volatil
Pada Gambar 13.
hubungan kondisi rata1rata
konsentrasi asam volatil
setiap variabel laju
alir umpan pada
kondisi tunak bioreaktor.
Pada laju alir umpan 2,86
liter/hari rata rata konsentrasi
asam volatil sebesar
42,24 mg/L, pada
laju alir umpan
4 liter/hari rata1rata
konsentrasi asam volatil sebesar 47,04 mg/L, dan pada laju alir
umpan 6,67 liter/hari
rata konsentrasi asam volatil
67,2 alir umpan 6,67 liter/hari merupakan laju alir umpan optimum proses asam
volatil dengan konsentrasi
asam volatil paling
tinggi sebesar pada kondisi tunak.
Pada laju alir umpan 4 liter/hari dan 6,67
liter/hari konsentrasi asam
volatil tinggi, hal ini
disebabkan karena laju alir umpan yang
tinggi pada pada bioreaktor Menurut Ahmad
(1992), laju pembebanan
yang tinggi pada
bioreaktor menyebabkan meningkatnya
konsentrasi asam asetat.
Sedangkan pada laju
alir umpan 2,86
liter/hari konsentrasi asam asetat mulai
menurun dan pH
semakin meningkat.
Dari
grafik dapat dilihat
bahwa semakin tinggi pH,
maka konsentrasi asam asetat
cenderung menurun. Penurunan dan
peningkatan pH sangat dipengaruhi oleh konsentrasi asam
asetat dalam cairan. Semakin
tinggi pembebanan organik
yang diumpankan kedalam bioreaktor menyebabkan bakteri
acidogen dan acetogen semakin aktif dan semakin cepat tumbuh, sehingga semakin banyak bahan organik dikonversi menjadi asam
asetat yang menyebabkan menurunnya pH [Soeprijanto dkk,
2010].
k. Studi Komparatif
Kinerja Bioreaktor Hibrid
Anaerob Dua Tahap
Studi komparatif kinerja bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap ditinjau dengan membandingkan kinerja bioreaktor hibrid anaerob dalam
pengolahan limbah cair
pabrik sagu bermedia
batu terhadap bioreaktor hibrid
anaerob yang mengolah limbah cair
industri lainnya dengan media
yang berbeda pula.
Perbandingan kinerja
bioreaktor hibrid anaerob
dua tahap pengolahan limbah
cair sagu bermedia
batu ini dengan
pengolahan limbah cair
industri lain dengan menggunakan media
yang berbeda ditampilkan dalam
Tabel 2.

Pada Tabel 2. ditunjukkan bahwa bioreaktor
hibrid anaerob bermedia plastik ring yang digunakan
untuk mengolah limbah
cair sagu memperoleh
pH sebesar 7,4
hingga 8,1 dan
konsentrasi alkalinitas sebesar
1510 hingga 3120 mg/L,
serta konsentrasi asam asetat
sebesar 2900 mg/L. Selain itu pada bioreaktor
hibrid anaerob bermedia batu
yang digunakan untuk
mengolah limbah cair
sawit diperoleh pH
sebesar 6,8 hingga 7,4
dan alkalinitas sebesar 25.000 hingga
32.000 mg/L serta konsentrasi asam
asetat sebesar 8707,3 mg/L.
Disamping itu pada
bioreaktor hibrid anaerob bermedia
batu yang digunakan untuk
mengolah limbah cair sagu
diperoleh pH sebesar
6,2 hingga 7,4 dan
alkalinitas sebesar 2160
hingga 2640 mg/L serta konsentrasi asam asetat sebesar 76,8 mg/L.
Bioreaktor
hibrid anaerob dua
tahap bermedia batu
yang digunakan untuk mengolah
limbah cair sagu
pada penelitian ini memperoleh pH
sebesar 6,2 hingga 7 dan konsentrasi
alkalinitas sebesar 2160 hingga
2440 mg/L serta konsentrasi asam
asetat sebesar 67,2 mg/L. Proses anaerob pada bioreaktor
ini dikatakan berhasil
atau bekerja dengan
baik karena perolehan
rata1rata pH dan
alkalinitas berada pada
rentang kondisi optimum. Menurut
Ahmad (2004) kondisi pH
optimum untuk perkembangan
mikroorganisme anaerobik berkisar
pada 6,8 hingga
7,4 dan menurut Ahmad
(1992) konsentrasi alkalinitas yang
optimum pada proses anaerobik berkisar
pada rentang 2000 hingga 3000 mg/L.
Kesimpulan dan Saran
Dari hasil penelitian
dan pembahasan dapat
diambil kesimpulan yaitu:
1. Semakin besar
laju alir maka
pH dan nilai alkalinitas effluent
yang terukur semakin
rendah, berbanding terbalik dengan
nilai asam volatil yang semakin
tinggi.
2. Kestabilan bioreaktor
hibrid anaerob dua tahap tertinggi terjadi pada
hari ke111 dengan
laju alir 2,86 liter/hari
dengan nilai 0,0118, sedangkan
kestabilan bioreaktor hibrid
anaerob dua tahap
terendah terjadi pada
bioreaktor dengan laju
alir 6,67 liter/hari
pada hari ke11
dengan nilai 0,0288, dan
tingkat kestabilan
bioreaktor dengan laju alir
4 liter/hari terjadi
pada hari ke14 dengan nilai
0,0183.
Saran lanjutan
yang dapat ditindak
lanjuti pada penelitian ini antara lain:
1. Perlu dilakukan
penambahan jumlah variasi
Waktu Tinggal Hidrolik (WTH) pada bioreaktor I untuk
penelitian selanjutnya, agar dapat
melihat perubahan dan
peningkatan secara signifikan.
2. Pada
penelitian selanjutnya, perlu dilakukan
identifikasi bakteri anaerob pada
bioreaktor tersuspensi
dengan bioreaktor melekat, karena
terjadi kemungkinan bahwa mikroorganisme yang
diharapkan tidak berkembang biak
dengan baik.
1.2.2.
Limbah
1.2.2.1. Pengertian Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Limbah
adalah sisa hasil proses produksi baik yang dapat digunakan lagi (yang dapat
didaur ulang) dan yang tidak dapat digunakan lagi (yang tidak dapat didaur
ulang) yang dapat mengganggu, merusak ekosistem apabila dibiarkan. Limbah
biasanya terdiri dalam wujud padat, cair dan gas.Limbah adalah sisa hasil
produksi baik yang dapat digunakan lagi (yang dapat di daur ulang) dan yang
tidak dapat digunakan lagi (yang tidak dapat didaur ulang) yang dapat
mengganggu, merusak ekosistem apabila dibiarkan.
Limbah
merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu
tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah ini
terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan senyawa anorganik dengan
konsentrasi dan kuantitas tertentu. Kehadiran limbah dapat berdampak negatif
terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan
penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh
limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
1.2.2.2.
Jenis-jenis Limbah
Jenis-jenis
limbah yang sering di jumpai antara lain:
1.
Cair
Limbah cair
merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi,
baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya. Komponen utama
limbah cair adalah air (99%) sedangakan komponen lainnya bahan padat yang
bergantung asal buangan tersebut.(Rustama et. al, 1998).
Limbah cair
adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan
dibuang ke tempat pembuangan sampah. Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air.
Komponen pencemaran air
pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan
buangan anorganik.
Limbah hitam:
sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang
berbahaya.Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian.
Sampah ini mungkin mengandung patogen.
2. Padat
Limbah padat
lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena
tidak memiliki nilai ekonomis.
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses
alam tidak ada sampah,
yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak.
3.
Gas
Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas atau
berada dalam fase gas, contoh : karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2),
nitrogen oksida (NOx), dan sulfur oksida (SOx).
1.2.3. Air
1.2.3.1. Karakteristik
Air
A.
Karakter
fisik
1. Temperatur/suhu, berpengaruh terhadap reaksi kimia,
reduksi kelarutan gas.
2. Rasa dan bau, diakibatkan oleh senyawa-senyawa lain dalam
air seperti gas H2S, NH3, senyawa fenol, dll.
3. Warna: air yang murni tidak berwarna, bening dan jernih,
adanya warna pada air menunjukkan adanya senyawa lain yang masuk ke dalam air.
4. Turbiditas/kekeruhan, karena adanya bahan dalam bentuk
koloid dari partikel yang kecil, dan atau adanya pertumbuhan mikroorganisma.
5. Solid, disebabkan
oleh senyawa organik maupun anorganik dalm bentuk suspensi (larut). Jumlah
total kandungan bahan terlarut = TDS (Total dissolve solid), sedangkan bahan
yang tidak terlarut (terpisah dengan filtrasi atau sentrifugasi) = Suspended
Solid (SS).
B. Karakteristik kimia
1. pH
Pembatasan pH
dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisien klorinasi.
Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekular, dimana
disosiasi senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekular dan disosiasi
tersebut dipengaruhi oleh pH.
2. DO (dissolved oxygent)
DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa
dan absorbsi atmosfer. Semakin banyaj jumlah DO maka kualitas air semakin baik.
3. BOD (biological oxygent
demand)
BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
menguraikan bahan – bahan organik (zat pencemar) yang terdapat di dalam air
buangan secara biologi.
4. COD (chemical oxygent
demand)
COD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan –
bahan organik secara kimia.
5. Kesadahan
Kesadahan air adalah kandungan mineral – mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg) dalam bentuk karbonat.
6.
Senyawa – senyawa kimia yang beracun
Kehadiran unsur arsen (As) pada
dosis yang rendah sudah merupakan racun terhadap manusia sehingga perlu
pembatasan yang ketat. Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan
timbulnya rasa dan bau ligam yang menimbulkan warna koloid merah (karat) akibat
oksidasi oleh oksigen terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia.
C. Karakteristik Biologi
Organisme yang
ditemukan dalam perairan: bakteri, virus,algae, jamur, mikroinvertebrata (protozoa, serangga,
cacing, dll). Karakteristik biologi ditentukan dengan parameter yang disebut
indeks biotik. Indeks ini menunjukkan ada tidaknya
organisme.
1.2.3.2.
Jenis-jenis Air
1. Hard
water (air kesadahan tinggi)
adalah air yang mengandung garam kapur secara berlebihan, yaitu kalsium
karbonat, kalsium sulfat, dan magnesium, sodium, besi, tembaga, silikon,
nitrat, chlorida, virus, bakteri, zat2 kimia dan berbagai mineral anorganik
lainnya.
2.
Soft water (air kesadahan rendah), contohnya air sungai, air danau, air mata air
pegungungan, dan air dari beberapa tempat.
3.
Raw
water (air mentah)
adalah jenis air yang belum mendapat penanganan tertentu, air tersebut dapat
berupa hard water maupun soft water. contoh hard water adlaah air kapur, contoh
soft water adalah air hujan. air mentah mengandung jutaan virus dan bakter
dalam satu tetes saja. Beberapa ahli kesehatan menyarankan untuk memasak air
(boiled water) yang akan kita konsumsi. pendidihan air tidak menghilangkan
mineral anorganik, meskipun air tersebut dapat membunuh bakteri dalam air
mentah.
4.
Rain
water (air hujan)
memang sudah disuling olh panasnya matahari sehingga tidak mengandung mineral
dan juga tidak mengandung kuman, namun pada waktu terjadinya kondensasi (pengembunan)
dari awan menjadi hujan, titik air tersebut melewati udara yang mengdanung
bakteri, debu, asap, bahan-bahan kimia, lumpur, dan bahan-bahan mematikan.
5.
Snow
water (air salju)
merupakan salju yang mencair yang juga membawa bahan-bahan kimia dan bahkan
dapat mengadnung radioaktif seperti strontium 90. salju merupakan air hujan
yang membeku.
6.
Filtered
water (air saringan)
adalah air yang dilewatkan melalui saringan sangat halus, yang diaktifkan
dengan karbon atau dengan penghilang mekanik lainnya. pemakaian air saringan
masih cukup populer saat ini,m beberapa orang mengira air yang dilewatkan
melalui suatu filter telah menjadi murni, namun tidak ada suatu filter yang
dapat mencegah bakteri atau virus lolos dari jaringan-jaringan halusnya.
7.
Deionized
water (air deionisasi)
dapat menghilangkan mineral secara efektif dan menyaingi air suling dalam hal
ini. namun demikian air itu berubah menjadi media pengembangan untuk bakteri,
zat-zat renik dan virus. kesalahan alat ini terletak pada hamparan damarnya
yang justru menjadi media pembenihan. disamping itu air ini tidak dapat
menghilangkan bahan kimia sintetis seperti herbisida, pestisida, dan
insektisida.
8.
Distiled
water (air suling)
adalah air yang diubah menjadi uap (dengan pemanasan) sehingga semua yang tidak
murni ditinggalkan, kemudian dengan proses kondensasi (pengembunan)
dikembalikan menjadi air murni.
1.2.4. Alkalinity
1.2.4.1. Pengertian Alkalinity
Alkaliniti
adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH
larutan. Sama halnya dengan larutan bufer, alkaliniti merupakan pertahanan air
terhadap pengasaman. Alkaliniti adalah hasil reaksi-reaksi terpisah dalam
larutan hingga merupakan sebuah analisa “makro” yang menggabungkan beberapa
reaksi. Alkaliniti dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO32-
), bikarbonat (HCO3- ), hidroksida (OH-) dan
juga borat (BO33-), fosfat (PO43-),
silikat dan sebagainya.
Air yang
sangat alkali atau bersifat basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya
mengandung padatan terlarut yang tinggi. Sifat-sifat ini dapat menurunkan
kegunaannya untuk keperluan dalam tangki uap, prosesing makanan dan system
saluran air dalam kota. Alkalinitas memegang peranan penting dalam
penentuan kemampuan air untuk mendukung pertumbuhan ganggang dan kehidupan
perairan lainnya. Pada umumnya, komponen utama yang memegang peran dalam
menentukan alkalinitas perairan adalah ion bikarbonat, ion karbonat dan ion
hidroksil.
1.2.4.2. Jenis-Jenis Alkalinity
1. Alkalinity karbonat
2. Alkalinity total
1.2.5. Asidimetri
1.2.5.1. Pengertian Asidimetri
Asidimetri
adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa,
sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan
larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi
asam-basa.
Titrasi
adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang
ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi
reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang
diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa
ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di
dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik
akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian
indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui.
Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat
penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kadua cara
di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun
istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan
tetatpi, dilihat dari segi yang yang keta, “titrimetrik” lebih baik, karena
pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi.
1.2.5.2. Indikator dan Penggunaannya
Beberapa pengertian indikator, antara lain :
1.
Teori
Oswald
Indikator adalah
zat-zat warna yang bersifat sebagai asam lemah atau basa lemah yang warna molekulnya sebelum berdissosiasi
berlainan dengan warna ionnya yang terjadi sesudah berdissosiasi.
2.
Teori
Chromophore
Indikator
adalah suatu persenyawaan organik yang warnanya tidak bergantung pada struktur
molekulnya dan perubahan
Adapun penggunaan indikator
yaitu sebagai penunjuk untuk mengetahui titik akhir titrasi dalam titrasi asam basa
dengan adanya perubahan warna atau terbentuknya endapan
BAB II
ALAT
DAN BAHAN
2.1.
Alat
Adapun
alat – alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Buret
50 ml :
1 buah
2. Statif
& kleim : 1
buah
3. Beaker
glass 200 ml : 2 buah
4. Erlenmeyer
100 ml : 4 buah
5. Pipet
tetes
: 3 buah
6. Pipet
volume 25 ml : 1
buah
7. Pipet ukur 5 ml : 1 buah
8. Tissue : Secukupnya
9. Botol
Semprot : 1 buah
10.Corong
: 2 buah
11.Bola karet
: 1 buah
2.2. Bahan
Adapun bahan – bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah
1. Larutan H2SO4 0,02 N
2. Indikator
PP
3. Indikator
MO
4. Air
mineral merek Ades
5. Air
mineral merek Vit
6. Air
mineral merek Gundaling
BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1. Prosedur Pembuatan
Larutan H2SO4 0,02N
a. Larutan
H2SO4 (P) dipipet sebanyak 0,54 ml diruang asam dan
dimasukan kedalam labu ukur 1000 ml yang berisi sedikit aquadest.
b.
Labu ukur berisi
larutan H2SO4 (P) ditambahkan aquadest sampai tanda
batas.
c. Labu
ukur berisi larutan dihomogenkan.
3.2. Prosedur Kerja P Alkalinity
a. Sampel
dipipet sebanyak 25 ml, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer 100 ml.
b.
Sampel ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes
kemudian diaduk.
c. Jika terjadi perubahan warna dititrasi dengan H2SO4
0,02 N sampai hilang warnanya dan
dicatat volume H2SO4 0,02 N yang terpakai. Tetapi jika
tidak terjadi perubahan warna, berarti P alkalinity = 0.
3.3. Prosedur Kerja M
Alkalinity
a. Sampel
dipipet sebanyak 25 ml, kemudian dimasukkan
kedalam Erlenmeyer 100 ml.
b.
Sampel
ditambahkan indikator MO sebanyak 3 tetes
kemudian diaduk.
c.
Sampel
akan berubah menjadi warna kuning, kemudian sampel dititrasi dengan H2SO4
0,02 N sampai berwarna orange dan dicatat volume H2SO4
0,02 N yang terpakai.
BAB IV
GAMBAR RANGKAIAN
4.1. Gambar Rangkaian Percobaan P Alkalinity
1.
Sampel-sampel yang digunakan
2. Sampel dituang kedalam beaker glass

3.
Setiap
sampel dimasukkan ke dalam erlemeyer sebanyak 100 ml

4. Setiap sampel di tetesi indikator PP sebanyak 3 tetes

5. Sampel dititrasi dengan larutan H2SO4
0,02 N Dari buret jika terjadi perubahan warna setelah penambahan indikator PP

4.2. Gambar Rangkaian Percobaan M Alkalinity
1.
Sampel-sampel yang digunakan
2. Sampel dituang kedalam beaker glass

3. Setiap sampel dimasukkan ke dalam erlemeyer sebanyak 100
ml

4. Setiap sampel di tetesi indikator MO
sebanyak 3 tetes

5.
Larutan dititrasi
dengan larutan H2SO4 0,02 N dari buret setelah penambahan
indikator PP

BAB V
DATA PENGAMATAN
5.1.
Tabel
Data Pengamatan Untuk P Alkalinity
No
|
Sampel
|
Volume Sampel
(ml)
|
Indikator PP
(tetes)
|
Volume
Titrasi H2SO4 (ml)
|
Warna
|
|
Sebelum
Titrasi
|
Sesudah
Titrasi
|
|||||
1
|
Air merek Vit
|
25
|
3
|
0
|
Tidak
berwarna
|
Tidak
berwarna
|
2
|
Air merek Ades
|
25
|
3
|
0
|
Tidak
berwarna
|
Tidak
berwarna
|
3
|
Air Gundaling
|
25
|
3
|
0,6
|
Merah jambu
muda
|
Tidak
berwarna
|
Keterangan
·
Air mineral Vit + Ind PP Tidak berwarna
·
Air
mineral Ades + Ind PP Tidak berwarna
·
Air
mineral Gundaling + Ind PP Lar merah jambu muda
Titrasi
5.2.
Tabel
Data Pengamatan Untuk M Alkalinity
No
|
Sampel
|
Volume Sampel
(ml)
|
Indikator MO (tetes)
|
Volume
Titrasi H2SO4 (ml)
|
Warna
|
|
Sebelum
Titrasi
|
Sesudah
Titrasi
|
|||||
1
|
Air merek Vit
|
25
|
3
|
1,7
|
Larutan
kuning
|
Larutan
Orange
|
2
|
Air merek Ades
|
25
|
3
|
0,3
|
Larutan
kuning
|
Larutan
Orange
|
3
|
Air Gundaling
|
25
|
3
|
2,1
|
Larutan
kuning
|
Larutan
Orange
|
Keterangan
·
Air
mineral Vit + Ind MO Lar. Kuning
Titrasi
·
Air
mineral Ades + Ind MO Lar. Kuning
Titrasi
·
Air
mineral Gundaling + Ind MO Lar. Kuning
Titrasi
BAB VI
PENGOLAHAN DATA
6.1. Perhitungan
Pembuatan Larutan H2SO4 0,02N
Dik: % H2SO4 = 98%
BJ =
1,84gr/l
BE
= 49 gr/EK
V2
=
1000 l
N
2 =
0,02 N
Dit: N1 dan V1...?
N1 = 
= 
=
36,8 Ek/l = 36,8 N
V1 x N1 = V2
x N2
V1 x
36,8 N = V2 x 0,02 N
V1 =
0,54 ml
Di pipet larutan H2SO4 (P) sebanyak
0,54 ml dan diencerkan dengan aquades sampai volume 1000 ml dan dihomogenkan.
6.2. Perhitungan P alkalinity
1.
P
Alkalinity untuk air merek Vit
Tidak
terjadi perubahan warna sehingga P Alkalinity sama dengan nol.
2.
P
Alkalinity untuk air merek Ades
Tidak terjadi perubahan warna sehingga P Alkalinity sama
dengan nol.
3.
P
Alkalinity untuk air Gundaling
=

= 24 ppm
6.3. Perhitungan M Alkalinity
1.
M
Alkalinity untuk Air merek Vit
= 
= 68 ppm
2.
M
Alkalinity untuk Air merek Ades
= 
= 12 ppm
3.
M
Alkalinity untuk Air Sumur
= 
= 84 ppm
6.4. Reaksi
1.
Dengan Indikator PP
OH
C OH
O
O
(Phenolphtalein )
Tidak berwarna
OH
C
air OH
O
(phenolphtalein )tidak berwarna
2.
Dengan
Indikator MO


H2O + Na+
-O3S N – N = N(CH3)2
Air Metil orange ( kuning
)

Na+-O3S N = N N (CH3)2 +
H2O+
Orange air
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Dari data pengamatan dapat disimpulkan bahwa :
1.
P –Alkalinity
Dari percobaan tersebut
diperoleh bahwa nilai P alkalinity untuk sampel air merek Ades, dan air merek Vit tidak
terjadi perubahan warna, sehingga nilai P-Alkalinity adalah 0. Tetapi P alkalinity untuk air merek
Gundaling adalah 24 ppm karena terjadi perubahan warna saat penambahan
indikator PP.
2.
M -Alkalinity
Pada percobaan
ini diperoleh kadar M.Alkalinity sebesar
:
a. M.Alkalinity untuk
sampel Air merek Vit adalah 68
ppm
b.
M.Alkalinity untuk Air merek Ades adalah 12 ppm
c.
M Alkalinity untuk Air merek Gundaling adalah 84 ppm
3. Dari perolehan
nilai alkalinity secara praktikum dapat disimpulkan bahwa sampel yang diuji masih sesuai dengan
SNI air yaitu 500 mgr/l, dimana pada sampel yang diuji alkalinitas sampel air
merek Gundaling lebih tinggi yaitu 84 mgr/l sehingga lebih banyak mengandung
karbonat dan bikarbonat dari pada air merek Ades dan Cleo.
7.2.
Saran
1. Sebaiknya hasil akhir titrasi diperhatikan dengan baik
agar hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.
2. Untuk praktikum selanjutnya diharapkan untuk melakukan
uji alkalinitas dengan metode yang berbeda-beda.
DAFTAR
PUSTAKA
Astuti,sri.2015. Pengolahan air dan limbah industri. Medan:
Politeknik Teknologi Kimia Industri.
Day, R.A.JR.dan
Underwood.A.I.1992. Analisis Kimia
Kuantitatif (Edisi
Kelima). Jakarta : Erlangga.
Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta:
Erlangga,
Khopkar, S.M. 1990. Konsep dasar
Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Utami Resarizki, dkk. 2015. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap pH, Alkalinitas dan
Asam Volatil Dalam Bioreaktor Hibrid
Anaerob Dua Tahap Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Sagu. Pekan baru. Mahasiswa
Program Studi Teknik Lingkungan, Dosen Teknik Kimia dan Lingkungan Fakultas Teknik
Universitas Riau.
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar